Valuasi

3 Docs

Valuasi Graham Number

Last Updated: Maret 18, 2026

Benjamin Graham, yang dikenal sebagai Bapak Value Investing, menciptakan sebuah formula untuk menentukan harga maksimal yang layak dibayar oleh seorang investor untuk sebuah saham. Metode ini sangat populer karena sifatnya yang konservatif dan mengandalkan data riil pada laporan keuangan. 1. Filosofi Graham Number Prinsip dasar Graham Number adalah memastikan bahwa investor tidak membayar terlalu mahal untuk aset (PBV) maupun untuk laba (PER) sebuah perusahaan. Graham menyarankan agar: Jika kedua angka ini dikalikan ($15 \times 1.5$), kita mendapatkan angka pengali tetap yaitu 22.5. Inilah angka “keramat” dalam perhitungan Graham Number. 2. Rumus Graham Number Untuk menghitung harga wajar maksimal menurut metode ini, kita menggunakan rumus akar kuadrat sebagai berikut: Graham Number = $\sqrt{22.5 \times EPS \times BVPS}$ 3. Contoh Perhitungan Misalkan Anda sedang menganalisis saham ABCD dengan data berikut: Langkah Perhitungan: Kesimpulan: Harga wajar maksimal menurut Graham Number adalah Rp2.323. Karena harga pasar saat ini (Rp2.500) sudah berada di atas angka tersebut, maka menurut metode Graham, saham ini sudah tergolong mahal (overvalued). 4. Kapan Menggunakan Graham Number? Metode ini sangat efektif digunakan pada perusahaan yang memiliki aset fisik besar dan laba stabil, seperti sektor perbankan atau manufaktur. Namun, metode ini kurang cocok untuk perusahaan teknologi atau pertumbuhan tinggi (growth stocks) yang biasanya memiliki nilai buku rendah tetapi potensi laba masa depan yang sangat besar.

Valuasi Peter Lynch

Last Updated: Maret 18, 2026

Manajer investasi legendaris, Peter Lynch, memiliki cara sederhana namun ampuh untuk menilai apakah sebuah saham layak dibeli: harga sebuah perusahaan haruslah mencerminkan pertumbuhan labanya. Jika pertumbuhan labanya tinggi, maka pasar layak menghargainya dengan harga yang lebih tinggi pula. 1. Prinsip Utama: PE Ratio = Growth Rate Peter Lynch berpendapat bahwa sebuah perusahaan dikatakan dihargai secara wajar jika rasio PER (Price to Earnings Ratio) besarnya sama dengan persentase pertumbuhan laba tahunannya. 2. Rumus Harga Wajar Peter Lynch Dari prinsip di atas, kita bisa mendapatkan estimasi harga wajar sebuah saham dengan rumus: Harga Wajar = EPS Terakhir x Rata-rata Pertumbuhan Laba (Growth) Catatan: Angka pertumbuhan yang digunakan adalah angka bulat (misal: jika tumbuh 20%, maka dikali 20). 3. Contoh Perhitungan Misalkan Anda menganalisis saham dengan data sebagai berikut: Langkah 1: Menghitung Harga Wajar Harga Wajar = Rp150 (EPS) x 20 (Growth) = Rp3.000 Langkah 2: Membandingkan dengan Harga Pasar 4. Menggunakan PEG Ratio sebagai Konfirmasi Selain harga nominal, Lynch menggunakan PEG Ratio untuk mengukur tingkat kemurahan: PEG Ratio = PER / Pertumbuhan Laba

Value Investing

Last Updated: Maret 18, 2026

Salah satu prinsip utama dalam value investing adalah memahami perbedaan antara harga dan nilai. Seperti kutipan terkenal dari Benjamin Graham: “Price is what you pay, value is what you get.” Sebagai investor, tugas kita adalah membeli saham saat harganya berada di bawah nilai aslinya. 1. Apa Itu Nilai Wajar (Intrinsic Value)? Nilai wajar adalah estimasi harga “jujur” dari sebuah perusahaan berdasarkan kekuatan fundamental dan prospek pertumbuhannya di masa depan. Harga pasar ditentukan oleh psikologi pembeli dan penjual setiap hari, sedangkan nilai wajar ditentukan oleh kinerja bisnis perusahaan tersebut. 2. Mengapa Harga Bisa Berbeda dengan Nilai? Di pasar modal (BEI), harga saham seringkali bergerak menjauh dari nilai wajarnya karena: 3. Cara Sederhana Menilai “Kemurahan” Saham Salah satu metode yang sering digunakan untuk melihat nilai wajar secara cepat adalah dengan membandingkan laba saat ini dengan rata-rata historisnya. Jika sebuah perusahaan biasanya dihargai pasar dengan rasio tertentu (misal PER 15x) namun saat ini hanya dihargai PER 8x padahal labanya tumbuh stabil, maka ada indikasi saham tersebut sedang “salah harga”. 4. Batas Keamanan dalam Membeli Menghitung nilai wajar bukanlah ilmu pasti yang menghasilkan satu angka mutlak, melainkan sebuah estimasi. Oleh karena itu, value investor selalu menggunakan Margin of Safety (MoS). Jika nilai wajar sebuah saham adalah Rp1.000, membelinya di harga Rp700 memberikan Anda perlindungan jika di kemudian hari ada perubahan kondisi ekonomi yang tidak terduga.