Manajer investasi legendaris, Peter Lynch, memiliki cara sederhana namun ampuh untuk menilai apakah sebuah saham layak dibeli: harga sebuah perusahaan haruslah mencerminkan pertumbuhan labanya. Jika pertumbuhan labanya tinggi, maka pasar layak menghargainya dengan harga yang lebih tinggi pula.
1. Prinsip Utama: PE Ratio = Growth Rate #
Peter Lynch berpendapat bahwa sebuah perusahaan dikatakan dihargai secara wajar jika rasio PER (Price to Earnings Ratio) besarnya sama dengan persentase pertumbuhan laba tahunannya.
- Jika perusahaan tumbuh 15% per tahun, maka PER yang wajar adalah 15x.
- Jika perusahaan tumbuh 25% per tahun, maka PER yang wajar adalah 25x.
2. Rumus Harga Wajar Peter Lynch #
Dari prinsip di atas, kita bisa mendapatkan estimasi harga wajar sebuah saham dengan rumus:
Harga Wajar = EPS Terakhir x Rata-rata Pertumbuhan Laba (Growth)
Catatan: Angka pertumbuhan yang digunakan adalah angka bulat (misal: jika tumbuh 20%, maka dikali 20).
3. Contoh Perhitungan #
Misalkan Anda menganalisis saham dengan data sebagai berikut:
- EPS (Laba per Saham): Rp150
- Rata-rata Pertumbuhan Net Profit: 20% per tahun
- Harga Saham saat ini: Rp2.500
Langkah 1: Menghitung Harga Wajar Harga Wajar = Rp150 (EPS) x 20 (Growth) = Rp3.000
Langkah 2: Membandingkan dengan Harga Pasar
- Harga Wajar: Rp3.000
- Harga Pasar saat ini: Rp2.500
- Kesimpulan: Saham ini sedang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya (undervalued).
4. Menggunakan PEG Ratio sebagai Konfirmasi #
Selain harga nominal, Lynch menggunakan PEG Ratio untuk mengukur tingkat kemurahan:
PEG Ratio = PER / Pertumbuhan Laba